Bab 1: Permulaan
"Permisi..." ucap Andini pelan saat meletakkan nampan di meja kecil.
Hening sejenak. Tante-tante itu menatap Andini dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan menilai. Tatapan yang membuat Andini merasa telanjang dan kotor.
"Oh, ini Andini," kata Tante Siska dengan nada datar. "Kirain siapa. Kok... kurusan, Din? Nggak dikasih makan sama Reyhan?"
Tawa kecil meledak di ruangan itu. Candaan yang menyakitkan.
"Diet mungkin, Tan," sahut salah satu sepupu Reyhan yang sedang main HP.
"Diet apa kurang gizi?" timpal Tante Lili, lalu tertawa terbahak-bahak sambil menepuk paha Bu Broto. "Bercanda lho, Jeng Broto. Jangan dimasukin ati."
Bu Broto ikut tertawa, tapi matanya melirik tajam ke Andini. "Andini emang gitu, Jeng. Susah dibilangin suruh minum vitamin. Sukanya makan ati sih." Sindiran telak.
Andini hanya tersenyum sopan. Senyum palsu yang sudah dia latih selama tiga tahun pernikahan ini. "Silakan diminum Tante, mumpung masih dingin."
"Din, ambilin tisu dong. Basah nih gelasnya," perintah Tante Siska tanpa menatap Andini.
"Iya, Tan."
Saat Andini berbalik hendak ke dapur lagi, terdengar suara deru mesin mobil sport yang menderum di depan teras. Suara yang berbeda dari mobil-mobil SUV keluarga. Semua mata tertuju ke pintu depan.
"Wah, Reyhan pulang!" seru Bu Broto antusias. Wajahnya langsung cerah, seolah matahari baru terbit. "Anak gantengku dateng!"
Pintu terbuka. Reyhan masuk dengan gaya khasnya. Kemeja linen putih yang kancing atasnya dibuka dua, celana chino beige yang pas di kaki, dan kacamata hitam yang disampirkan di kerah. Wangi parfum maskulin 'Sauvage' langsung menyeruak masuk, menabrak udara ruangan.
Tapi Reyhan tidak sendiri.
Di lengannya, menggelayut manja seorang wanita.
Andini terpaku di tempatnya berdiri, memegang kotak tisu. Jantungnya berhenti berdetak sedetik.
Wanita itu cantik. Sangat cantik. Rambutnya di-blow sempurna bergelombang warna cokelat pirang *ash grey*. Kulitnya putih mulus seperti porselen, kontras dengan *dress* merah marun selutut yang memeluk lekuk tubuhnya dengan provokatif namun tetap terlihat elegan. Tas Hermes Birkin kecil menggantung di lengannya yang lain.
"Assalamualaikum, Tante-Tante cantik!" sapa Reyhan dengan suara baritonnya yang renyah, senyumnya memamerkan deretan gigi putih hasil veneer.
"Waalaikumsalam! Ya ampun Reyhan!" Tante Lili langsung berdiri, heboh. "Ganteng banget sih keponakan Tante satu ini! Eh, ini siapa? Pacar baru?"
Hening lagi. Kali ini hening yang canggung. Semua orang melirik ke arah Andini yang masih berdiri mematung di pojok ruangan dekat meja prasmanan.
Reyhan seolah baru sadar ada istrinya di sana. Dia menatap Andini sekilas—tatapan dingin, tanpa rasa bersalah—lalu kembali tersenyum ke arah tante-tantenya.
"Kenalin, Tan. Ini Clara. Rekan bisnis Rey. Partner kerja lah," jawab Reyhan santai.
"Partner kerja kok gandengan?" goda Tante Siska, matanya berbinar melihat tas Clara. "Asli tuh tasnya?"
Clara tersenyum manis, senyum yang tidak mencapai mata. Dia melepaskan tangan Reyhan lalu menyalami satu per satu tante-tante itu dengan gestur luwes.
"Halo Tante, saya Clara. Iya Tante, ini asli kok. Kebetulan dapet dari Paris kemarin pas *business trip* bareng Reyhan."
*Business trip bareng Reyhan?*
Andini meremas kotak tisu di tangannya sampai penyok. Reyhan bilang minggu lalu dia ke Surabaya untuk urusan proyek konstruksi. Ternyata ke Paris? Dengan uang dari mana? Cicilan mobil saja nunggak.
"Oh, Paris?" Bu Broto langsung berdiri, memeluk Clara seolah itu anak kandungnya sendiri. "Ya ampun, pantesan Reyhan betah kerjanya. Partnernya cantik, pinter, wangi lagi. Nggak kayak..." Bu Broto sengaja memutus kalimatnya sambil melirik ekor mata ke arah Andini.
"Duduk, sayang, duduk sini," Bu Broto menepuk tempat kosong di sebelahnya, menggeser Tante Lili. "Jangan diri terus, nanti capek kakinya. Itu sepatunya Manolo Blahnik ya? Mahal tuh pasti."
Clara duduk dengan anggun, menyilangkan kakinya yang jenjang. "Ah, Tante tau aja. Biasa aja kok Tan, cuma hobi koleksi."
"Tuh denger," kata Tante Siska keras-keras. "Perempuan tuh harus punya hobi koleksi barang bagus. Biar suaminya semangat kerja. Kalau istri di rumah kumel, suami juga males pulang."
"Bener banget!" timpal Tante Lili.
Andini merasa lantai di bawah kakinya bergoyang. Dia ingin lari. Dia ingin berteriak. Tapi kakinya seperti dipaku. Dia adalah istri sah. Kenapa dia yang merasa seperti penyusup di sini?
Reyhan berjalan mendekati Andini. Bukan untuk menyapanya, tapi untuk mengambil gelas es buah di nampan.
"Minggir dikit, Din. Ngalangin jalan," bisik Reyhan dingin saat melewatinya.
Andini menatap mata suaminya. "Mas... katanya ke Surabaya?"
Reyhan berdecak pelan, memastikan suaranya tidak terdengar tamu lain. "Nggak usah bahas di sini. Jangan bikin malu. Balik ke dapur sana, ambilin piring buat Clara. Dia belum sarapan."