Bab 2
“Kalau memang aku seburuk itu sebagai istri… kenapa Mas masih takut kehilangan aku?”
Ucapan Nayla membuat Raka membeku sesaat.
Namun detik berikutnya, pria itu tertawa sinis sambil menatap tajam istrinya.
“Kehilangan kamu? Jangan ge-er, Nay. Di luar sana banyak perempuan yang—”
“Yang nggak bakal tahu kebiasaan kamu bohong tiap malam?” potong Nayla pelan.
“Yang nggak bakal tahu kenapa kamu selalu pulang bau parfum perempuan lain?”
Seketika wajah Raka berubah.
Tangannya mengepal kuat, sementara Nayla perlahan mengambil ponselnya dari atas meja.
“Awalnya aku juga masih mau percaya sama semua alasan kamu, Mas…”
Nayla tersenyum tipis, matanya mulai berkaca-kaca.
“Tapi setelah lihat chat itu tadi sore… aku baru sadar, ternyata yang paling capek di rumah ini bukan kamu.”
**********
"Acara tujuh bulanan kakak kandungku, kamu bilang nggak penting, Mas?"
"Ya memang nggak penting buat aku! Yang penting itu pekerjaanku! Klienku! Kamu pikir beras di rumah ini dibeli pakai doa syukurannya kakakmu itu?!"
"Mas, tolong pelankan suaramu. Ini udah malam. Nggak enak didengar tetangga."
"Biarin! Biar sekalian semua tetangga dengar kalau istriku ini nggak ada rasa terima kasihnya sama sekali! Kamu itu cuma bisa nuntut, Nayla. Nuntut waktu, nuntut perhatian. Kamu mikir nggak sih capeknya aku di kantor kayak apa?!"
"Aku juga capek, Mas."
"Capek apa kamu?!" Raka tertawa meremehkan. "Capek di rumah doang? Capek ke salon? Capek shopping?!"
"Capek nutupin semua kebohongan kamu," jawab Nayla pelan, tapi kata-kata itu meluncur tajam.
Ruangan itu mendadak hening. Raka menatap Nayla dengan rahang mengeras. Matanya menyipit, memancarkan amarah yang siap meledak.
"Maksud kamu apa ngomong gitu?" desis Raka. "Kamu nuduh aku bohong? Kamu nuduh aku main gila di luar, iya?!"
"Aku nggak bilang kamu main gila, Mas. Aku cuma bilang, aku capek nutupin kebohongan kamu. Kamu bilang lembur di kantor, tapi tadi sore Mas Doni, teman kantormu, update status kalau rombongan divisi kalian udah pada pulang dari jam lima sore."
Wajah Raka sedikit pucat, tapi egonya menolak untuk kalah.
"Itu divisinya Doni! Divisiku beda! Kamu ini udah mulai berani mata-matain aku, hah?! Istri macam apa kamu ini?!" Raka melangkah maju, menendang koper yang sedang dikemas Nayla hingga koper itu terguling dan isinya berantakan di atas kasur.
Nayla memejamkan mata sesaat, menarik napas panjang. Ia menatap kemeja yang sudah disetrikanya rapi kini kusut berantakan.
"Mas, tolong. Besok kamu flight pagi. Jangan bikin keributan malam ini. Aku mau beresin koper kamu."
"Nggak usah sok perhatian kamu! Paling di dalam hati kamu lagi maki-maki aku, kan?!" Raka berteriak, urat di lehernya menonjol. "Kamu pikir aku nggak tahu isi otak kamu?! Kamu pasti lagi nyesel nikah sama aku! Kamu pasti lagi banding-bandingin aku sama cowok-cowok di luar sana, kan?!"
"Aku nggak pernah bandingin kamu sama siapa pun, Mas Raka. Aku cuma minta sedikit waktu dan kehadiran kamu buat keluargaku. Itu aja."
"Alah, omong kosong! Kamu sama keluargamu itu sama aja! Sama-sama tukang nuntut! Terutama ibumu itu, selalu aja sinis lihat aku!"
"Jangan bawa-bawa Ibu, Mas." Nada suara Nayla mulai menegas, meski wajahnya tetap tanpa ekspresi.
"Kenapa?! Kenyataannya begitu! Ibumu itu selalu merasa keluarganya paling suci, paling benar! Padahal aslinya matre, cuma peduli sama status! Dia nikahin kamu sama aku karena aku punya jabatan, kan?!"
"Mas Raka, cukup!" Nayla menaikkan nada suaranya sedikit.
"Oh, sekarang kamu berani bentak aku?!" Raka berkacak pinggang. "Berani kamu sama suami?!"
"Aku nggak bentak kamu, Mas. Aku cuma minta kamu berhenti menghina ibuku."
"Aku ngomong fakta! Kalau kamu nggak terima, berarti kamu sama aja rusaknya kayak keluargamu! Istri nggak tahu diri! Nggak bisa ngurus suami, nggak bisa ngasih ketenangan, yang ada cuma bikin pusing!"
Nayla menatap mata suaminya. Pria yang dulu berjanji akan menjaganya itu kini berdiri di hadapannya seperti orang asing yang penuh kebencian.
"Kalau aku emang nggak bisa ngasih ketenangan, terus kenapa kamu masih mau di sini, Mas? Kenapa kamu pulang ke rumah ini kalau cuma buat marah-marah?"
Kalimat itu bagai bensin yang disiramkan ke kobaran api ego Raka. Matanya melotot. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuh.
"Kamu nantang aku, Nay?!"
"Aku nggak nantang. Aku cuma nanya."
"Kamu nantang aku buat ninggalin kamu?!" Raka melangkah maju, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Nayla. Bau rokok yang menyengat dan sedikit aroma alkohol tercium dari napasnya. "Kamu pikir aku takut?! Kamu pikir aku nggak bisa hidup tanpa kamu?!"
Nayla diam, menatap kosong ke dada suaminya.